Kimia
Friday, 3 October 2014
Saturday, 20 September 2014
Senyawa Alkuna
Pembuatan Senyawa Alkuna
Pada umumnya senyawa alkuna dibuat
melalui reaksi eliminasi, substitusi atau pembakaran. Berikut ini beberapa
contoh pembuatan alkuna
*Dalam industri etuna dibuat dari
pembakaran tidak sempurna metana. Reaksi pembentukan etuna (asetilena) :
4 CH4 (g)
+ 3 O2 (g) 2C2H2 (g)
+ 6 H2O (g)
*Dalam
jumlah kecil asetilena juga dapat dibuat dari reaksi batu karbid (kalsium
karbida) dengan air:
CaC2 (s)
+ 2 H2O (l) Ca(OH)2 (aq)
+ C2H2 (g)
*Perengkahan alkana
Etuna dapat diperoleh dari
perengkahan alkana dalam minyak bumi.
*Reaksi substitusi etuna
Alkuna dengan rantai lebih panjang
dapat diperoleh melalui reaksi substitusi etuna
Alkuna
Artikel ini bukan
mengenai Alkana atau Alkena.
Alkuna adalah
hidrokarbon tak jenuh yang memiliki ikatan rangkap tiga. Secara umum, rumus
kimianya CnH2n-2. Salah satunya adalah etuna yang disebut juga sebagai asetilen
dalam perdagangan atau sebagai pengelasan.
Tata Nama
Semua anggota alkuna
berakhiran -una dan menurut IUPAC.
Rantai karbon
lurus[sunting | sunting sumber]
Untuk alkuna rantai
lurus, dinamakan sesuai dengan alkana dengan jumlah atom karbon yang sama,
namun diakhiri dengan -una. Berikut adalah alkuna dengan jumlah atom karbon 1-10
disebut:
1. Etil = CH
2. Etuna = C2H2
3. Propuna = C3H4
4. Butuna = C4H6
5. Pentuna = C5H8
6. Heksuna = C6H10
7. Heptuna, = C7H12
8. Oktuna = C8H14
9. Nonuna, =C9H16
10. Dekuna, =C10H18
Rantai
karbon bercabang
Untuk memberikan nama alkuna dengan rantai bercabang sama
mirip dengan alkana rantai bercabang. Namun "rantai utama" pada
proses penamaan haruslah melalui ikatan rangkap 3, dan prioritas penomoran
dimulai dari ujung yang terdekat ke ikatan rangkap 3.
Manfaat
Alkuna
Alkuna banyak digunakan untuk bahan awal untuk mensintesis
senyawa organik lain yang berguna.
Friday, 15 August 2014
Bilangan Oktan
Bilangan Oktan/Angka Oktan
Pengertian Bilangan
Oktan/Angka Oktan
Bilangan oktan adalah angka yang menunjukkan seberapa besar tekanan yang bisa diberikan sebelum bensin terbakar secara spontan. Di dalam mesin, campuran udara dan bensin (dalam bentuk gas) ditekan oleh piston sampai dengan volume yang sangat kecil dan kemudian dibakar oleh percikan api yang dihasilkan busi. Karena besarnya tekanan ini, campuran udara dan bensin juga bisa terbakar secara spontan sebelum percikan api dari busi keluar. Jika campuran gas ini terbakar karena tekanan yang tinggi (dan bukan karena percikan api dari busi), maka akan terjadi knocking atau ketukan di dalam mesin. Knocking ini akan menyebabkan mesin cepat rusak, sehingga sebisa mungkin harus kita hindari.
Nama oktan berasal dari oktana (C 8), karena dari seluruh molekul penyusun bensin, oktana yang memiliki sifat kompresi paling bagus. Oktana dapat dikompres sampai volume kecil tanpa mengalami pembakaran spontan, tidak seperti yang terjadi pada heptana, misalnya, yang dapat terbakar spontan meskipun baru ditekan sedikit.
Bensin dengan bilangan oktan 87, berarti bensin tersebut terdiri dari 87% oktana dan 13% heptana (atau campuran molekul lainnya). Bensin ini akan terbakar secara spontan pada angka tingkat kompresi tertentu yang diberikan, sehingga hanya diperuntukkan untuk mesin kendaraan yang memiliki ratio kompresi yang tidak melebihi angka tersebut.
Umumnya skala oktan di dunia adalah Research Octane Number (RON). RON ditentukan dengan mengisi bahan bakar ke dalam mesin uji dengan rasio kompresi variabel dengan kondisi yang teratur.
Beberapa angka oktan untuk bahan bakar:
Ø 87 Bensin standar di Amerika Serikat
Ø 88 Bensin tanpa timbal Premium-TT
Ø 91 Bensin standar di Eropa
Ø 94 Premix-TT
Ø 95 Super-TT
Angka oktan bisa ditingkatkan dengan menambahkan zat aditif bensin. Menambahkan tetraethyl lead (TEL, Pb(C2H5)4) pada bensin akan meningkatkan bilangan oktan bensin tersebut, sehingga bensin "murah" dapat digunakan dan aman untuk mesin dengan menambahkan timbal ini. Untuk mengubah Pb dari bentuk padat menjadi gas pada bensin yang mengandung TEL dibutuhkan etilen bromida (C 2H5Br). Celakanya, lapisan tipis timbal terbentuk pada atmosfer dan membahayakan makhluk hidup, termasuk manusia. Di negara-negara maju, timbal sudah dilarang untuk dipakai sebagai bahan campuran bensin.
Zat tambahan lainnya yang sering dicampurkan ke dalam bensin adalah MTBE (methyl tertiary butyl ether, C5H11O), yang berasal dan dibuat dari etanol. MTBE murni berbilangan setara oktan 118. Selain dapat meningkatkan bilangan oktan, MTBE juga dapat menambahkan oksigen pada campuran gas di dalam mesin, sehingga akan mengurangi pembakaran tidak sempurna bensin yang menghasilkan gas CO. Belakangan diketahui bahwa MTBE ini juga berbahaya bagi lingkungan karena mempunyai sifat karsinogenik dan mudah bercampur dengan air, sehingga jika terjadi kebocoran pada tempat-tempat penampungan bensin (misalnya di pompa bensin ) MTBE masuk ke air tanah bisa mencemari sumur dan sumber-sumber air minum lainnya.
Etanol yang berbilangan oktan 123 juga digunakan sebagai campuran. Etanol lebih unggul dari TEL dan MTBE karena tidak mencemari udara dengan timbal. Selain itu, etanol mudah diperoleh dari fermentasi tumbuh-tumbuhan sehingga bahan baku untuk pembuatannya cukup melimpah. Etanol semakin sering dipergunakan sebagai komponen bahan bakar setelah harga minyak bumi semakin meningkat.
Jenis-jenis bensin
Jenis Bahan Bakar Minyak Bensin merupakan nama umum untuk beberapa jenis BBM yang diperuntukkan untuk mesin dengan pembakaran dengan pengapian. Di Indonesia terdapat beberapa jenis bahan bakar jenis bensin yang memiliki nilai mutu pembakaran berbeda. Nilai mutu jenis BBM bensin ini dihitung berdasarkan nilai RON (Randon Otcane Number). Berdasarkan RON tersebut maka BBM bensin dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:
- Premium (RON 88) : Premium adalah bahan bakar minyak jenis distilat berwarna kekuningan yang jernih. Warna kuning tersebut akibat adanya zat pewarna tambahan (dye). Penggunaan premium pada umumnya adalah untuk bahan bakar kendaraan bermotor bermesin bensin, seperti : mobil, sepeda motor, motor tempel dan lain-lain. Bahan bakar ini sering juga disebut motor gasoline atau petrol.
- Pertamax (RON 92) : ditujukan untuk kendaraan yang mempersyaratkan penggunaan bahan bakar beroktan tinggi dan tanpa timbal (unleaded). Pertamax juga direkomendasikan untuk kendaraan yang diproduksi diatas tahun 1990 terutama yang telah menggunakan teknologi setara dengan electronic fuel injection dan catalytic converters.
- Pertamax Plus (RON 95) : Jenis BBM ini telah memenuhi standar performance International World Wide Fuel Charter (WWFC). Ditujukan untuk kendaraan yang berteknologi mutakhir yang mempersyaratkan penggunaan bahan bakar beroktan tinggi dan ramah lingkungan. Pertamax Plus sangat direkomendasikan untuk kendaraan yang memiliki kompresi ratio > 10,5 dan juga yang menggunakan teknologi Electronic Fuel Injection (EFI), Variable Valve Timing Intelligent (VVTI), (VTI), Turbochargers dan catalytic converters.
v Adapun Jenis Bensin yang dipasarkan beberapa perusahaan di Indonesia di antaranya :
1. PERTAMINA
-Premium
-Premix
-Pertamax
-Pertamax Plus
-Avgas
-Diesel
2. SHELL
-Shell Fuel Super Ron 92
-Shell Fuel Super Xtra Ron 95
-Shell Diesel
3. PETRONAS
Anti-Knocking dan cara mencegah knocking
Knocking (ketukan) adalah peledakan campuran (uap bensin dengan udara) didalam silinder mesin dengan siklus Otto sebelum busi menyala. Peristiwa knocking ini angat mengurangi daya mesin. Hidrokarbon rantai lurus cenderung membangkitkan knocking. Ketukan dalam mesin terjadi karena pembakaran tidak sempurna yang disebabkan oleh tidak tepatnya perbandingan uap bahan bakar dan udara yang tidak seimbang. Hal ini akan menyebabkan tidak semua bahan bakar terbakar dalam mesin. Bahan bakar yang tidak terbakar akan mengakibatkan panas tidak merata dan menyebabkan terjadinya kerak mesin. Pembakaran tidak sempurna akan menyebabkan tekanan dan panas yang tinggi, sehingga mengakibatkan kerugian tenaga, pemborosan bahan bakar dan kerusakan pada mesin. Mutu pembakaran mogas oleh sifat ketukan yang dapat dilihat pada besarnya angka oktana. Terjadinya ketukan pada mesin disebabkan karena kurang terpenuhinya angka oktana, yang ditandai dengan terjadinya reaksi berantai dari peroksida.
Anti-knocking adalah penambahkan bahan anti ketukan ke dalam mogas Untuk meniadakan reaksi ketukan/peledakan campuran (knocking), yang mana anti-knocking itu berupa TEL, TML atau campuran keduanya.
Cara Pencegahan Knocking
- Memilih angka oktan. Memilih oktan untuk kendaraan seperti mengisi air ke dalam gelas hingga tinggi tertentu. Ada batas di mana mesin akan terpuaskan. Kurang menyebabkan tidak optimal dan terganggu. Makin penuh makin OK. Namun terlalu banyak hanya akan tumpah, mubazir saja.
- Memundurkan timing untuk mencegah knocking. Agar kedua ledakan /pembakaran tidak saling tubruk, maka timing dimajukan. Jadi pembakaran yang semestinya terjadi justru mendekati waktu pembakaran yang keliru. Maka terhindarlah dua lidah api bertemu dari dua ledakan. Tentu saja tindakan ini akan menurunkan efisiensi mesin.
- Menambahkan Octane Booster pada bensin (dimasukkan ke tangki bensin)
- Menggunakan katalis untuk menaikkan nilai oktan (biasanya mengandung timbal, tidak ramah lingkungan).
- Merubah derajat waktu pengapian (ignition timing) ke posisi yang lebih lambat (Retard).
- Menggunakan aplikasi water-injection (agak repot untuk perawatannya).
- dan lain-lain.
Zat aditif bensin
Tetraetil lead. Menambahkan tetraetil lead pada bensin akan meningkatkan bilangan oktan bensin tersebut, sehingga bensin “murah” dapat digunakan dan aman untuk mesin dengan menambahkan lead (timbal) ini. Tetapi akibatnya adalah bumi yang kita tinggali ini diselimuti oleh lapisan tipis lead, dan lead ini berbahaya untuk makhluk hidup, termasuk manusia. Sehingga di negara-negara maju, lead sudah dilarang untuk dipakai sebagai bahan campuran bensin. MTBE (methyl tertiary butyl ether), yang berasal dan dibuat dari etanol. MTBE ini selain dapat meningkatkan bilangan oktan, juga dapat menambahkan oksigen pada campuran gas di dalam mesin, sehingga akan mengurangi pembakaran tidak sempurna bensin yang menghasilkan gas CO. Tetapi, belakangan diketahui bahwa MTBE ini juga berbahaya bagi lingkungan karena mempunyai sifat karsinogenik dan mudah bercampur dengan air, sehingga jika terjadi kebocoran pada tempat-tempat penampungan bensin (misalnya di pom bensin) dan MTBE ini masuk ke air tanah bisa mencemari sumur dan sumber-sumber air minum lainnya.
Zat-zat pencemar yang berasal dari pembakaraan BBM.
Zat-zat pencemar yang berasal dari pembakaran BBM diantaranya :
a. Karbon monoksida (CO)
Dikota besar yang lalu lintas kendaraannya cukup sibuk, kadar CO di udara mencapai 50 ppm, bahkan didaerah sekitar lampu lalu lintas dapat mencapai 120 ppm. Udara dengan kadar CO lebih dari 100 ppm dapat menimbulkan sakit kepala dan cepat lelah, dan udara dengan kadar CO 250 ppm dapat menyebabkan pingsan bagi orang yang menghirupnya.
b. Nitrogen oksida (NOx)
Sumber utama Nitrogen oksida pencemar udara berasal dari bahan bakar dalam industri dan kendaraan bermotor karena nitrogen dan oksigen tidak bereaksi pada suhu rendah, tetapi bereaksi pada suhu tinggi.
N2(g) + O2(g) → 2NO2(g)
Sekitar 10% dari gas NO yang dihasilkan ini, dioksidasi lebih lanjut membentuk gas NO2
2 NO(g) = O2 (g) → 2 NO2(g)
Campuran NO dan NO2 sebagai pencemar udara biasanya ditandai dengan lambang Nox. Lambang NOx diudara adalah 0,05 ppm. Gas NOx diudara secara langsung tidak beracun pada manusia, tetapi Nox bereaksi terhadap bahan-bahan pencemar lain dan menimbulkan fenomena asbut (asab kabut) atau smog (berasal dari smoke = asap dan fog = kabut)
c. Oksida Belerang (SO2 dan SO3)
Gas oksida belerang dapat terjadi dari letusan gunung berapi, pembakaran bahan bakar minyak dan batubara yang mengandung belerang, serta dari industri pengolahan logam.
Contoh
(1) pembakaran batu bara dan minyak yang mengandung belerang S(5) + O2(9) → SO2(9)
(2) pemanggangan seng sulfida
2Zn S(5) + 3 O2(9) → 2 Zn O(5) + 2 SO2 (9)
Daerah yang tercemar oksida belerang dapat mengalami hujam asam, yaitu ph air hujan ≤ 5. Hujan asam berbahaya bagi makhluk hidup karena dapat menimbulkan
(1) iritasi pada kulit berupa gatal-gatal
(2) korosi terhadap logam-logam sehingga timbul karat
(3) merusak bangunan yang terbuat dari batu pualam/marmer
karena kapur akan bereaksi dengan asam.
CaCO3(s) = H2 SO4 (og) →
CaSO4(5) + H2 CO3 → CO2(g)
H2O(1)
(4) merusak tumbuh-tumbuhan.
d. Hidrokarbon yang tidak terbakar
Sebagai sumber utama ozon di perkotaan.Berbeda dengan lapisan ozon yang berada di atmosfer atas (stratosfer) yang berguna bagi manusia dan makhluk hidup lainnya, ozon yang kontak langsung dengan manusia dan makhluk hidup ini berbahaya, karena bersifat oksidator.
Dasar-dasar kimia
A. Hukum
Kekekalan Massa (Lavoiser)
Hukum
kekekalan Massa dikemukakan oleh Antoine Laurent Lavoisier (1743-1794) yang
berbunyi: ”Dalam suatu reaksi, massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah
sama”, dengan kata lain massa tidak dapat diciptakan dan tidak dapat
dimusnahkan. Artinya selama reaksi terjadi tidak ada atom-atom pereaksi dan
hasil reaksi yang hilang
Percobaan yang dilakukan oleh
Lavoisier.
Lavoisier
mereaksikan cairan merkuri dengan gas oksigen dalam suatu wadah di ruang
tertutup sehingga menghasilkan merkuri oksida yang berwarna merah. Apabila
merkuri oksida dipanaskan kembali, senyawa tersebut akan terurai menghasilkan
sejumlah cairan merkuri dan gas oksigen dengan jumlah yang sama seperti semula.
Dengan
bukti dari percobaan ini Lavoisier merumuskan suatu hukum dasar kimia yaitu
Hukum Kekekalan Massa yang menyatakan bahwa jumlah massa zat sebelum dan
sesudah rekasi adalah sama.
Pernyataan
yang umum digunakan untuk menyatakan hukum kekekalan massa adalah massa dapat
berubah bentuk tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Untuk suatu
proses kimiawi di dalam suatu sistem tertutup, massa dari reaktan harus sama
dengan massa produk.
Hukum kekekalan massa digunakan secara luas dalam bidang-bidang seperti kimia, teknik kimia, mekanika, dan dinamika fluida.
Hukum kekekalan massa digunakan secara luas dalam bidang-bidang seperti kimia, teknik kimia, mekanika, dan dinamika fluida.
Hukum
kekekalan massa dapat terlihat pada reaksi pembentukan hidrogen dan oksigen
dari air. Bila hidrogen dan oksigen dibentuk dari 36 g air, maka bila reaksi
berlangsung hingga seluruh air habis, akan diperoleh massa campuran produk
hidrogen dan oksigen sebesar 36 g. Bila reaksi masih menyisakan air, maka massa
campuran hidrogen, oksigen dan air yang tidak bereaksi tetap sebesar 36 g.
Begitu
juga kalau kita membakar kayu misalnya kayu korek api. Berlaku juga hukum
kekekalan massa. Memang setelah kayu terbakar akan menjadi abu. Namun yang
perlu anda ketahui adalah bahwa selain abu, pada pembakaran kayu juga
dihasilkan oksida karbon, asap dan uap air. Oksida carbon dan uap air tidak
tampak oleh mata karena bermujud gas. Jika ditimbang ulang :
mk massa kayu + masa oksigen = masa abu + massa oksida karbon + massa uap air + massa asap.
mk massa kayu + masa oksigen = masa abu + massa oksida karbon + massa uap air + massa asap.
Kalau
hukum kekekalan massa memang benar, maka massa dari materi yang ada didunia ini
berarti tidak pernah berubah.Kalau begitu, maka ketika mahluk hidup, hewan,
tumbuhan dan manusia, setiap kali tumbuh menjadi semakin besar, berarti ada
penambahan massa yang diambilkan dari massa materi yang lain. Begitu juga
setiap bayi yang lahir, berarti ada energi dan massa di alam semesta ini yang
beralih ke dalam diri bayi.
Kalau
kita makan, maka ada beberapa massa dari air dan makanan yang makan akan
menjadi daging pada tubuh kita. Kalau manusia bertambah banyak, sesungguhnya
tidak ada perubahan massa di alam semesta ini, karena jumlah massa tentu juga
sama sebagaimana jumlah energi di alam semesti ini, berarti selalu sama.
Hukum
Kekekalan Massa:
“massa
zat sebelum reaksi sama dengan massa zat setelah reaksi”
Contoh
:
S(s)
+ O2(g) → SO2(g)
1
mol S bereaksi dengan 1 mol O2 membentuk 1 mol SO2. 32
gram S bereaksi dengan 32 gram O2 membentuk 64 gram SO2.
Massa total reaktan sama dengan massa produk yang dihasilkan.
H2(g)
+ ½ O2(g) → H2O(l)
1
mol H2 bereaksi dengan ½ mol O2 membentuk 1 mol H2O.
2 gram H2 bereaksi dengan 16 gram O2 membentuk 18 gram H2O.
Massa total reaktan sama dengan massa produk yang terbentuk.
Contoh
soal :
Pada
wadah tertutup, 4 gram logam kalsium dibakar dengan oksigen, menghasilkan
kalsium oksida. Jika massa kalsium oksida yang dihasilkan adalah 5,6 gram, maka
berapa massa oksigen yang diperlukan?
Jawab :
m Ca = 4 gram
m CaO = 5,6 gram
Jawab :
m Ca = 4 gram
m CaO = 5,6 gram
B. Hukum
Perbandingan Tetap (Proust)
Hukum
perbandingan tetap ditemukan oleh Joseph Proust, seorang ahli kimia Perancis.
Hukum perbandingan tetap menyatakan, seperti namanya, perbandingan massa
unsur-unsur dalam suatu senyawa adalah tertentu dan tetap. Jadi, senyawa apapun
dimanapun pasti terdiri dari perbandingan massa yang pasti. Sebagai contoh,
perbandingan massa natrium dan klor pada NaCl sebanyak 2 gram adalah 0.768 gram
dan 1.124 gram. Maka perbandingan massanya adalah 1:1.54 atau disederhanakan
2:3. Jika diambil senyawa yang sama dari sumber yang lain sebanyak 2.5 gram
dengan natrium 0.983 gram, maka ditemukan 0.983:1.517 atau 1:1.54 atau 2:3.
Percobaan ProustPada tahun 1799 Proust menemukan bahwa senyawa tembaga karbonat baik yang dihasilkan melalui sintesis di laboratorium maupun yang diperoleh di alam memiliki susunan yang tetap
Hukum ini mematahkan pendapat Archimedes yang dipakai ahli kimia dari Arab sampai Eropa selama ratusan tahun, bahwa senyawa hanyalah asal campur dengan perbandingan asal. Walaupun jauh setelahnya ditemukan kesalahan yang amat kecil, hukum ini membuka jalan pengembangan reaksi senyawa pada kimia modern.
Hukum Perbandingan Tetap (Hukum Proust)
“perbandingan massa unsur-unsur pembentuk senyawa selalu tetap, sekali pun dibuat dengan cara yang berbeda”
Contoh :
S(s) + O2(g) → SO2(g)
Perbandingan massa S terhadap massa O2 untuk membentuk SO2 adalah 32 gram S berbanding 32 gram O2 atau 1 : 1. Hal ini berarti, setiap satu gram S tepat bereaksi dengan satu gram O2 membentuk 2 gram SO2. Jika disediakan 50 gram S, dibutuhkan 50 gram O2 untuk membentuk 100 gram SO2.
H2(g) + ½ O2(g) → H2O(l)
Perbandingan massa H2 terhadap massa O2 untuk membentuk H2O adalah 2 gram H2 berbanding 16 gram gram O2 atau 1 : 8. Hal ini berarti, setiap satu gram H2 tepat bereaksi dengan 8 gram O2 membentuk 9 gram H2O. Jika disediakan 24 gram O2, dibutuhkan 3 gram H2 untuk membentuk 27 gram H2O
Hukum
Kelipatan Perbandingan (Hukum Dalton)
Categories :Hukum Kelipatan Perbandingan (Hukum Dalton) . kimia
Dua unsur dapat membentuk lebih
dari satu macam senyawa. Misalnya unsur karbon dengan oksigen dapat membentuk
karbon monoksida dan karbon dioksida. John Dalton (1766–1844) mengamati adanya
suatu keteraturan perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu senyawa.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan Dalton diperoleh data sebagai berikut:
Perbandingan nitrogen dalam
senyawa nitrogen dioksida dan nitrogen monoksida:
Berdasarkan hasil percobaan
tersebut, Dalton menyimpulkan bahwa:
Jika dua jenis unsur bergabung membentuk lebih dari satu macam senyawa maka perbandingan massa unsur dalam senyawa-senyawa tersebut merupakan bilangan bulat sederhana.
Contoh soal:
Karbon dan oksigen dapat membentuk dua macam senyawa yaitu CO dan CO2. Jika kandungan karbon pada senyawa CO dan CO2 berturut-turut 42,85% dan 27,2%. Apakah data ini sesuai hukum Dalton?
Karbon dan oksigen dapat membentuk dua macam senyawa yaitu CO dan CO2. Jika kandungan karbon pada senyawa CO dan CO2 berturut-turut 42,85% dan 27,2%. Apakah data ini sesuai hukum Dalton?
Jawab:
Dimisalkan senyawa CO dan CO2 masing-masing 100 gram.
![]() |
Perbandingan
massa C dan O pada senyawa CO dan CO2
|
Perbandingan massa oksigen dalam
CO2 dan CO = 2,66 : 1,33 = 2 : 1. Perbandingan massa oksigen dalam
kedua senyawa adalah bulat sederhana, sesuai dengan hukum Dalton
Reaksi adisi
pada prinsipnya dalam reaksi ini terjadi pemutusan ikatan rangkap dan ikatan yang terputus digantikan dengan mengikat atom atau gugus atom lain. dalam contoh di atas ikatan rangkap dua mengalami pemutusan kemudian digantikan dengan mengikat -H dan -Cl dari HCl. cara pemilihan letak ikatan -H dan -Cl menggunakan aturan Markovnikov yakni "atom H akan terikat pada atom karbon yang lebih banyak H nya". pada contoh di atas atom C di sebelah kiri ikatan rangkap tidak mengikat H sedangkan atom C di sebelah kanan ikatan rangkap mengikat 1 atom H sehingga atom H dari HCl akan diikat oleh atom C di sebelah kanan ikatan rangkap dan Cl dari HCl akan diikat oleh aotm C di sebelah kirinya. aturan ini juga berlaku untuk reaksi adisi dengan senyawa lain selain HCl.
Dengan reaksi adisi dan
aturan markovnikov ini kita dapat menentukan letak ikatan rangkap.
3. Reaksi Eliminasi, adalah reaksi pembentukan ikatan rangkap.
reaksi ini merupakan reaksi kebalikan dari reaski adisi.
Untuk membedakan ketiga
jenis reaski di atas dapat dilakukan dengan melihat ciri2nya yang dengan mudah
akan teramati :
- Pada reaksi subtitusi ruas
kanan dan ruas kiri tidak terdapat ikatan rangkap atau bila di ruas kiri
ada ikatan rangkap maka ruas sebelah kanan masih ada ikatan rangkap
tersebut.
- sedangkan pada reaksi
adisi mempunyai ciri ruas sebelah kanan (sebelum reaksi) terdapat ikatan
rangkap sedangkan di ruas sebelah kiri (setelah reaksi) ikatan rangkap
tersebut hilang atau berkurang dari rangkap 3 menjadi rangkap 2.
- kemudian pada reaksi
eliminasi mempunyai ciri2 kebalikan dari reaksi adisi, yakni di ruas
sebelah kiri tidak ada ikatan rangkap kemudian di ruas sebelah kanan
menjadi ada ikatan rangkapnya.
tanda2 ini dapat kalian
terapkan pada contoh2 reaksi diatas.
sekarang pembahasan kita beralih pada Alkohol
dan isomer gugus fungsinya yakni eter (alkoksi alkana).
ALKOHOL
secara umum berdasarkan
letak gugus fungsinya alkohol dibedakan menjadi 3 jenis yakni:
![[kimia.bmp]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZ6NLKsNWBVoUbCViKyfve29AezvKvzm1JwD9sUAX1Lu-6LCJ_PMWnkGw09Z5GyNOrtNPuaDqTVo4ZKr2XPAMjxE6bJ4SAqLbBHNQPlqQaOgMgqrMyyXPlEC2M-6d8mbQ8-TqzYZFPC9BB/s1600/kimia.bmp)
(1) Alkohol
primer, gugus -OH diikat oleh C primer yakni atom C yang hanya mengikat 1
atom C lain sehingga letaknya berada di pinggir rantai C
(2) Alkohol
sekunder, gugus -OH diikat oleh C sekunder yakni atom C yang mengikat dua
atom C lainnya sehingga letaknya berada ditengah2 rantai C yang lurus
(3) Alkohol tersier, gugus -OH diikat oleh C tersier yakni atom C
yang mengikat tiga atom C lainnya, alkohol tersier ini mempunyai ciri awalan
namanya kembar. sebagai contoh nama alkohol tersier diatas adalah 2 metil
2 propanol.
2.Reaksi Adisi
Reaksi adisi terjadi
pada senyawa tak jenuh. Molekul tak jenuh dapat menerima
tambahan atom atau gugus dari suatu pereaksi. Dua contoh
pereaksi yang mengadisi pada ikatan rangkap adalah brom dan hidrogen. Adisi
brom biasanya merupakan reaksi cepat, dan sering dipakai sebagai uji kualitatif
untuk mengidentifikasi ikatan rangkap dua atau rangkap tiga. Reaksi adisi
secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:
Contoh :

3.Reaksi Eliminasi
Reaksi eliminasi
adalah kebalikan dari reaksi adisi. Dalam reaksi ini terjadi penghilangan 2
atom atau gugus untuk membentuk ikatan rangkap atau struktur siklis. Kebanyakan
reaksi eliminasi menyangkut kehilangan atom bukan karbon. Reaksi eliminasi
secara umum :
Contoh nya yaitu dehidrogenisasi
alkana :
4.Reaksi Oksidasi
Suatu
senyawa alkana yang bereaksi dengan oksigen menghasilkan karbon dioksida dan
air disebut dengan reaksi pembakaran. Perhatikan persamaan reaksi oksidasi pada
senyawa hidrokarbon berikut.
CH4(g) + O2(g)
→ CO2(g) + H2O(g)
Reaksi pembakaran
tersebut, pada dasarnya merupakan reaksi oksidasi. Pada senyawa metana (CH4)
dan karbon dioksida (CO2) mengandung satu atom karbon. Kedua senyawa
tersebut harus memiliki bilangan oksidasi nol maka bilangan oksidasi atom
karbon pada senyawa metana adalah –4, sedangkan bilangan oksidasi atom karbon
pada senyawa karbon dioksida adalah +4.
Bilangan oksidasi
atom C pada senyawa karbon dioksida meningkat (mengalami oksidasi), sedangkan
bilangan oksidasi atom C pada senyawa metana menurun.
Subscribe to:
Comments (Atom)


